HANYA BISA MENGHELA NAFAS
Malam yang begitu dingin membuat aku jadi malas untuk keluar rumah. Padahal sudah janji dengan teman buat nongkrong bareng. Namun karena habis hujan, jalanan menjadi becek. Padahal baru tadi pagi motor ku dicuci. Nanti pasti kotor lagi kena lumpur di jalan.
Dilema menghantui kepala ku. Memutuskan pergi bareng teman buat nongkrong atau tidak saat ini menjadi keputusan yang menentukan segalanya. Pertama, ketika aku memutuskan untuk membatalkan nongkrong bareng teman, mereka akan menganggapku sebagai orang yang suka memberi harapan palsu. Kedua, kalau aku pergi nongkrong malam ini, motor ku akan kotor lagi. Padahal, kemarin teman ku bilang kalau aku malas nyuci motor gara-gara motor ku kotor habis kena hujan.
Perkataan teman memang sederhana, tapi begitu masuk ke dalam dada. Inginnya, sih, tidak mau memasukkannya ke dalam hati. Tapi entah kenapa, perkataan itu secara otomatis masuk sendiri ke dalam pikiran terus ke hati. Ujung-ujungnya kepikiran terus sampai tidak bisa tidur.
Sebenarnya dua keputusan itu beresiko. Namun setelah aku pertimbangkan, yang paling beresiko adalah kehilangan kepercayaan teman. Daripada aku malas-malasan di atas kasur sambil berharap teman akan paham perasaan ku, lebih baik aku putuskan untuk pergi nongkrong bareng teman. Kalaupun aku berharap mereka memahami, harapan itu hanya akan sia-sia saja. Karena persepsi orang berbeda-beda, dan mereka tidak akan pernah tahu kondisi kita yang sebenarnya.
Brem brem brem
Bunyi mesin motor ku yang memecah heningnya malam. Suara jangkrik yang tadi bersahutan tiba-tiba berhenti dan ikut menyimak suara merdu motor ku. Ya seperti itulah nasib motor tua, menggangu sekitar dan bikin bising.
Motor ku terus melaju hingga sampai ke tempat tujuan, tempat dimana kita tadi pagi janjian buat nongkrong. Karena habis hujan, tempat duduk jadi basah. Maklum, orang biasa, tempat nongkrongnya tidak bisa di kafe mahal, paling bisanya di alam terbuka: taman kota.
Tidak mau celana ku menjadi basah akibat duduk di tempat basah, akhirnya aku putuskan buat membersihkan tempat itu terlebih dahulu dari air. Suasana begitu sepi. Belum ada siapa-siapa di sekitar. Teman ku juga belum datang.
Aku putuskan buat menelpon salah satu dari mereka. Namun tak diangkat. Ku coba lagi ke teman ku yang lain, hasilnya pun sama.
Suasana semakin dingin. Jaket ku tidak mampu menahan dingin yang melanda. Apakah aku harus segera pulang? Entahlah.
Aku membuka mata, ternyata sudah pagi. Aku tertidur di taman kota selama aku menunggu teman ku yang tak kunjung datang. Aku sedikit kesal, tapi mereka biasanya main keroyokan kalau sedang mem-bully ku habis-habisan. Jadi aku anggap kalau aku tidak kesal sama sekali kepada mereka.
Di sekolah
"Hai, teman-teman!" aku menyapa mereka yang sedang asik ngumpul bareng.
Sayang sekali mereka hanya melihat ku sekilas dan melanjutkan ngobrol bareng lagi. Di setiap perkumpulan pasti ada satu atau dua orang yang tidak dianggap keberadaannya, dan kebetulan itu adalah aku. Sebenarnya aku tidak mau menjabat di posisi ini, namun apa daya, voting telah menentukan.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Seluruh siswa mulai bersiap-siap untuk pulang.
Kebetulan motorku sengaja aku parkir di sebelah motor teman-teman yang lain. Hal itu menjadikan kita semua bisa bertemu di parkiran.
"Lho, motor mu masih kotor aja?" salah satu teman tiba-tiba mengatakan sesuatu yang menusuk.
"Tadi malam kena hujan." Alasan ku sederhana. Padahal motor ku kotor juga demi mereka semua. Tapi mereka malah tidak datang dan memberi harapan palsu.
"Halah, alasan aja, kamu. Bilang aja kalau kamu malas nyuci."
Mulai dari situ, aku hanya bisa pasrah. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang kejadian tadi malam, atau motor ku kotor demi untuk sekedar keluar buat nongkrong. Karena mereka tidak akan mempercayainya. Fokus mereka hanya untuk mencari kesalahan ku. Aku pun hanya bisa menghela nafas.
Comments
Post a Comment