TENANG DI AWAL, TAPI...
Tidak terasa ujian tengah semester sebentar lagi akan tiba. Padahal rasanya baru kemarin aku menghadapinya. Jadwal ujian yang lalu saja masih ku simpan rapi di tas. Aku memang terbiasa melakukannya. Bahkan di lemari ku terdapat kumpulan kartu ujian lengkap dengan jadwalnya yang aku kumpulkan sejak kelas 1 SD. Bisa-bisa kartu-kartu itu aku wariskan sampai ke cucu.
Seperti biasa, sebelum ujian dilaksanakan, para siswa wajib melunasi segala administrasi yang masih belum lunas. Mulai dari buku paket, SPP sampai bulan September, dan iuran-iuran yang lain. Bagi yang tidak melunasi tanpa ada alasan tidak diperbolehkan mengikuti ujian. Aku bersyukur sudah tidak memiliki tanggungan yang harus dibayarkan. Jadi aku bisa tenang dan fokus ke mata pelajaran yang akan diujikan.
Hari ini adalah hari pengambilan jadwal sekaligus kartu ujian. Karena terburu-buru, kartu dan jadwal langsung aku masukkan ke tas tanpa sempat melihat nomor bangku dan jadwal. Aku langsung bergegas menuju parkiran sepeda. Banyak sepeda motor berjejer rapi di sana. Aku langsung mengambil sepeda ku yang terparkir di sana juga. Sepeda ku kebetulan didesain berbeda dari yang lain, tanpa mesin motor. Ya karena sepeda biasa. Memang sih sepeda ku yang paling cemen di antara sepeda-sepeda yang terparkir di sana.
Malam harinya aku belajar sesuai dengan jadwal yang ada di tas. Aku pun belajar sungguh-sungguh berharap materi yang aku pelajari malam ini keluar di soal ujian sehingga aku mendapatkan nilai bagus dan prestasi yang memuaskan. Karena terlalu memaksakan diri aku pun sampai ketiduran di tempat belajar.
Keesokan harinya aku kaget mendapati posisi tidurku yang dari tadi malam sampai pagi ini tidak berubah. Ya, posisi duduk sambil kepala ditaruh di meja. layaknya orang kelelahan gara-gara lembur kerja di kantor selama bertahun-tahun tidak pulang-pulang. Aku pun segera bangkit dan bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Di sekolah aku terlihat paling santai di antara teman-teman yang lain. Banyak dari teman ku yang pagi itu sibuk belajar di dalam kelas karena khawatir tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan nanti. Sedangkan aku hanya duduk santai di tempat duduk yang sesuai dengan nomor ujian milik ku.
Bel pun berbunyi tanda ujian segera dimulai, juga berarti tanda pengawas ujian yang garang akan segera memasuki ruangan dan membagikan soal. Di tengah-tengah pengawas membagikan soal, dia menegur diri ku, "kamu kenapa duduk di sini? Tempat duduk mu mana?"
Aku bingung dan bertanya balik, "ini kan tempat duduk ku, pak. Kenapa Bapak menyuruhku pindah?"
"Mana kartu ujian kamu?" Bapak pengawas itu meminta kartu ujian ku dengan penuh kecurigaan.
"Ini, pak, silahkan dicek!"
"Lho, ini kan kartu ujian yang lalu, bukan untuk sekarang."
"Hah? Yang lalu?" Tanpa melanjutkan kata-kata aku terkaget sambil berteriak keras. Sampai-sampai seluruh peserta ujian melihat ke arah ku.
Tiba-tiba dari pintu masuk, ada Soni yang datang terlambat. Dia tampak terburu-buru dan berjalan menuju tempat duduk ku. "Permisi, Roy, ini tempat duduk ku," tanpa basa-basi dia meminta ku berdiri dari tempat duduk yang sedang aku pakai sambil memasang ekspresi panik karena takut kena marah oleh guru pengawas. Karena tempat duduk itu miliknya. Terbukti dari nomor kartu yang dia bawah.
"Kamu kenapa terlambat, Sony?" Tanya Bapak pengawas dengan tegas.
"Maaf pak, aku tadi harus mengantar kue ke warung ibuku untuk dijual."
Pak sabar selaku guru pengawas hari itu hanya bisa menghela nafas dan bilang, "ya sudah, besok jangan terlambat lagi. Hari ini Bapak maafkan. Silahkan duduk."
Aku pun harus berdiri dari tempat duduk itu dan mempersilahkan Sony duduk di tempatnya. Segera aku mengambil tas dan mencari kartu ujian ku di dalam untuk memastikan. Ternyata benar kartu ujian beserta jadwal telah tertukar. Jadi ternyata usaha belajar ku tadi malam sia-sia karena aku salah belajar. Kali ini aku sendiri yang tampak panik sedangkan teman-teman yang tadi panik sekarang malah tenang mengerjakan soal ujian.
Comments
Post a Comment