CERITA ANAK LABIL

Banyak orang berpendapat kalau nongkrong di kafe bisa memperoleh banyak teman dan bisa saling tukar pengetahuan, bahasa kerennya sharing, upsss itu ma bahasa Inggris. Aku pun berpendapat sama dengan kebanyakan orang tersebut. Namun aku lebih senang kalau sendiri. Rasanya lebih bebas. Tidak ada yang protes dengan apapun yang aku lakukan. Aku mau nonton film Hello Kitty atau The Raid tidak masalah, aku bebas memilih. Itu alasannya aku malas keluar bareng teman-teman kece parah di kafe hanya untuk pesan secangkir kopi panas, duduk semaleman sambil main internet memakai wifi gratisan. Aku sih tidak masalah, kalau begitu terus, lama-lama kafe itu bisa bangkrut.


Hingga suatu waktu aku membaca artikel. Dalam artikel itu menyarankan kepada setiap pembaca yang budiman untuk memperbanyak teman. Karena dengan banyaknya teman yang kita miliki, semakin banyak jaringan yang nantinya bisa membantu kita dalam mencapai kesuksesan. Aku sih inginnya kumpul dengan teman-teman dan bermain layang-layang, petak umpet, polisi maling atau yang lainnya. Selain menambah teman, kita juga turut membantu dalam melestarikan permainan tradisional yang kini semakin punah di kalangan anak-anak seiring maraknya pengguna gadget. Daripada hanya sekedar nongkrong di kafe yang obrolannya semakin lama semakin tidak jelas karena kehabisan topik. Namun apa daya, hampir semua teman seumuran ku - mahasiswa semester 3 - lebih suka nongkrong di kafe dan tempat-tempat nogkrong lainnya.

Akhirnya aku mencoba mempraktikan apa yang tertulis di artikel itu. Aku pun ikutan nongkrong di kafe dengan hanya modal uang pas-pasan. Biasalah anak kost. Kebetulan besok hari minggu, libur kuliah. Meskipun sebenarnya besok aku harus bersih-bersih kamar, nyuci baju dan nyetrika. Tapi menurut ku, "paling jam 9 malam aku sudah pulang dan segera tidur."

Ternyata prediksiku salah. Setiap aku mau pamitan, teman-teman pasti bilang, " cemen lo, masak baru jam segini sudah mau pulang aja." Dengan pantat yang sudah terasa panas gara-gara duduk berjam-jam, terpaksa aku melanjutkan nongkrong yang hanya untuk ngobrol kesana-kemari gak jelas.

Waktupun terus bergerak tanpa sebentarpun berhenti dan menunggu kita - ya iyalah, emangnya waktu itu pembantu kita yang bisa seenaknya kita suruh nunggu dengan hanya sedikit menaikan gajinya -. Tanpa sempat kita sadari jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Mata ku sudah memerah tanda rasa kantuk sudah menghantuiku. Tapi sayang, setiap aku mau pamitan pulang, pasti ada saja teman kampret yang melarangku untuk pulang, padahal Ibu ku saja tidak pernah melarangku seperti ini. Entah dengan alasan solidaritas atau apalah. Jadi menyesal deh ikutan nongkrong. Padahal dari tadi aku merasa tidak dapat apa-apa dari bahan obrolan di kafe ini. Aku hanya merasa waktu ku terbuang percuma hanya untuk ini.

Akhirnya teman-teman memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing tepat jam 5 pagi. Dalam benak ku berkata, "kok tidak sekalian bikin tenda di kafe ini dan menginap untuk selamanya." Aku pun segera bangkit dari tempat duduk menuju kasir dan membayar. Dengan tenaga yang masih tersisa aku melangkah menuju motor yang ku parkir tidak jauh dari pintu masuk dan segera pergi meninggalkan kafe itu.

Pagi harinya aku tidak kuat lagi untuk bersih-bersih kamar, apalagi mencuci pakaian dan menyetrika. Aku pun memutuskan untuk tidur sambil berharap sebelum sore hari tenaga ku bisa pulih kembali dan segera menyelesaikan tumpukan tugas yang sudah menunggu ku. Akupun tertidur seharian tanpa sadar matahari sudah mau terbenam. Aku sedih saat melihat kamar yang masih berantakan, baju banyak yang kotor, dan setrikaan menggunung. Berharap ada orang baik hati yang tiba-tiba datang ke kamar kost ku dan membantu ku dalam menyelesaikan ini. Tapi itu tidak mungkin, ditambah badan ku masih terasa capek dan berat untuk aku ajak bersih-bersih.

Akibat dari menelan mentah-mentah isi artikel tanpa mempertimbangkan kondisi yang ada.

Comments

Trending Topics

TENANG DI AWAL, TAPI...

SEBENARNYA KAMU TIDAK SENDIRIAN

TIDAK ADA TEKAD KUAT, NASIHAT DAN MOTIVASI TIDAKLAH BERGUNA