TIDAK ADA TEKAD KUAT, NASIHAT DAN MOTIVASI TIDAKLAH BERGUNA
Ketegangan tergambar jelas di wajah Irfan saat menunggu pengumuman kelulusan di Sekolah Menengah Pertama. Dia menyadari semua kesalahannya selama 3 tahun di SMP. Dia hanya serius belajar pas menginjakkan kaki pertama kali di sekolah itu. Seterusnya dia hanya menunda-nunda waktu untuk belajar. Para guru sering memberi motivasi dan dorongan kepada setiap siswa termasuk Irfan sendiri. Saat itu dia langsung menyadarinya dan bertekad untuk mengumpulkan semangat buat belajar giat lagi. Namun dia terlalu menggampangkan dan selalu berpikir kalau hari esok akan terus ada. Tidak ia sadari 3 tahun telah berlalu, dia belum juga memulai belajar. Penyesalan pun terus menghampirinya.
Pak Parmin membagikan amplop kecil berisi surat keputusan lulus atau tidak lulus kepada semua siswa kelas IX yang dari tadi tegang menunggu pengumuman itu. Tidak ada yang mengetahui isi surat itu karena suratnya masih tersegel.
"Apapun yang tertulis di amplop itu adalah hasil usaha kalian selama 3 tahun di sekolah ini. Bapak berharap prestasi yang kalian dapatkan di sini benar-benar hasil usaha kalian. Silahkan kalian buka isi surat itu bersama-sama". Pak Parmin memberikan sepatah kata sebelum mempersilahkan para siswa kelas IX membuka amplop.
Setelah terbuka amplop itu, senyum bahagia mengembang di wajah setiap siswa pertanda kalau mereka lulus. Irfan pun ikut tersenyum gembira mengetahui dirinya juga lulus. Namun dia sadar bahwa hasil itu tidak ia dapatkan dengan usaha keras dia, melainkan dari bantuan teman-teman. Meskipun lulus, dalam hati Irfan tetap gundah karena ketidakpuasan-nya dalam mendapatkan hasil itu.
Tidak lama setelah hari kelulusan itu, Irfan memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu Sekolah Menengah Atas. Di sekolah baru ini, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Dia mencoba untuk belajar giat. Namun tetap saja, dia tidak memiliki tekad kuat untuk merubahnya, niatnya hanya setengah-setengah. Meskipun dia telah mengetahui kesalahannya di masa SMP. Dia terus menunda-nunda waktu untuk belajar. Rasa malas untuk belajar terus menggerogotinya sehingga ia tidak berdaya lagi melawannya.
Nasihat, motivasi tidak pernah bisa membantu Irfan kalau dia tidak ada tekad kuat untuk merubah dirinya sendiri.
Comments
Post a Comment