ALASAN AKU TIDAK BISA TIDUR
Jam pelajaran pertama telah usai. Belum sempat Pak Bambang, Guru Bahasa Indonesia pagi itu, keluar dari kelas, tiba-tiba Ibu Guru Matematika masuk ke kelas sambil memberikan senyum tipis kepada Pak Bambang. Bu Bekti, Guru Matematika, tanpa basa-basi langsung memberikan pengumuman mendadak kepada para siswa, "anak-anak, karena besok saya ada jam di kelas ini, saya akan mengadakan ulangan. Tolong dipersiapkan, ya!"
Tanpa menunggu respon dari para siswa di kelas XI B, Bu Bekti langsung meninggalkan kelas. Anak-anak hanya bisa tertegun setelah mendengar pengumuman itu. Matematika termasuk mata pelajaran yang dicintai, ups salah, maksudnya dibenci para siswa. Yang terlihat paling bingung di kelas itu adalah Zaki. Dia sudah ada janji dengan Faris untuk membeli novel detektif di toko buku nanti malam. Otomatis dia tidak bisa belajar Matematika untuk mempersiapkan diri buat ulangan besok. Yang paling dia bingungkan adalah mendapat nilai jelek gara-gara tidak belajar. Padahal biasanya dia mendapatkan nilai bagus saat ada ulangan Matematika. Dia sengaja berusaha mendapat nilai bagus dan ditunjukkan ke Ibunya, supaya dia dapat traktiran satu porsi bakso dan satu gelas es jeruk dari Ibunya. Tapi kalau nilainya jelek dia akan dibuang ke sumur, eh maksudnya uang sakunya dikurangi. Bagi Zaki uang saku sangat berarti, karena dengan itu dia bisa membeli satu buah novel detektif kesayangannya di akhir bulan.
Zaki sangat kebingungan. Sebenarnya dia ingin membatalkan janjinya dengan Faris untuk membeli novel detektif, dengan begitu dia bisa, belajar. Tapi Zaki tidak enak dengan Faris. Karena kalau janji iu dibatalkan, Faris akan bilang, "OK fix, berarti kamu lebih mementingkan belajar buat ulangan matematika besok dibanding janji kita membeli buku bareng. Kalau begitu hubungan, eh maksudku persahabatan kita cukup sampai di sini. Kamu jangan hubungi aku lagi untuk selamanya. Bye!" Faris memang tipe orang yang selalu bawa perasaan.
Jam 5 sore Zaki baru tiba di rumah. Segera dia memcuci kaki dan masuk ke kamar. Tanpa berpikir panjang Zaki langsung mengambil buku matematika dan mempelajarinya sambil berharap dengan waktu yang tersisa dia bisa mempersiapkan diri untuk ulangan besok. Saking seriusnya, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Zaki pun terkaget dan langsung mencari telpon genggamnya. Dicarilah nomor telpon Faris yang tersimpan di kontak handphone dia. Sambil dihantui rasa bersalah, Zaki menunggu panggilannya terhubung dengan Faris. Tiba-tiba, "sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini, silahkan isi pulsa anda." Zaki langsung lari ke ruang tamu untuk mencari telpon rumah. Dengan memakai telpon rumah akhirnya dia bisa menelpon Faris tanpa ada halangan.
Lama sekali telpon belum diangkat oleh Faris juga. Zaki pun menutup telponnya dan melakukan panggilan ulang. Sampai 10x telpon tidak juga diangkat oleh Faris. Zaki merasa semakin bersalah dan kebingungan lalu berteriak, "hidup ini tidak adiiiiillllll...."
Malam ini dia tidak bisa memejamkan mata sama sekali. meskipun dia telah melakukan tips supaya bisa cepat tidur. Seperti menghitung domba, berendam air hangat, memakai piyama yang nyaman, peregangan, membaca, sampai suplemen tidur. Semua itu tidak berhasil membuat dia bisa tertidur. Jam pun menunjukkan pukul 12.30. Tiba-tiba handphone Zaki berdering. Terlihat dari layar kalau Faris yang menelpon. Sebelum menjawab telpon dari Faris, Zaki berdoa dulu supaya diberi keselamatan.
"Halo." Sapa Faris lewat telpon.
"Ha, ha, halo," dengan terbatah-batah Zaki menjawab sapaan dari Faris.
"Kamu kenapa?" Faris pun bingung, tidak biasanya Zaki terbatah-batah. Zaki anaknya paling percaya diri parah.
"Eng, enggak ada apa-apa kok. Me, memang ada apa nelpon malam-malam?"
"Kamu nampaknya belum tidur, ya! Maaf tadi pas di sekolah ada footsal. Capek banget. Saking capeknya, pas nyampek rumah aku tertidur di depan pintu rumah di atas kosek kaki. Ibu ku yang memindahkan ku ke kamar. Ini aku baru bangun. Maaf banget janji beli novelnya ditunda besok malam aja, ya!"
Mendengar berita itu, Zaki langsung merasa legah. Tidak harus merasa bersalah. Menariknya lagi, Zaki tadi sudah belajar Matematika. Berarti besok dia sudah siap ulangan. Uang saku tidak jadi dipotong. Yesss. Saking leganya, seketika Zaki tertidur tanpa rasa bersalah.
Comments
Post a Comment