TERNYATA AKU MASIH BUTUH BANTUAN
Suara rintik hujan mulai pergi menjauh entah kemana. Malam pun menjadi hening. Hanya perlahan terdengar lagu alam yang spesial dinyanyikan oleh kolaborasi antara Katak dan Jangkerik. Yani pun mulai bangkit dari meja belajar dan mengakhiri pertarungan sengit melawan rumus matematika. Diambilnya langkah menuju jendela kamar sebelah kiri kasur. Bunyi jendela yang sedang dibuka oleh Yani mengusir burung hantu yang setiap malam nongkrong sendirian di pohon besar dekat jendela Yani. Ya benar, akibat ngejomblo lama, burung hantu itu jadi tidak punya teman nongkrong. Aroma wangi tanah setelah terguyur hujan semakin membuat suasana malam itu semakin lengkap. Stress dan cidera akibat bertarung melawan rumus matematika pun bisa terobati. Bintang-bintang di langit mulai memberanikan diri untuk bersinar setelah tertutup awan mendung.
Tidak terasa, limabelas menit pun berlalu. Akhirnya Yani memutuskan untuk mengakhiri malam ini dengan berbaring di atas kasur dan memejamkan mata untuk menyambut mimpi indah. Perasaan tidak sabar menyambut hari esok membuat Yani ingin segera terlelap. Karena setelah pulang sekolah besok, Yani kedatangan teman waktu kecil bernama Domi setelah sekian lama berpisah.
Kokok ayam milik tetangga terdengar begitu keras dari dalam jendela kamar Yani. Kokok ayam itulah yang selama ini telah berjasa membangunkan Yani sehingga ia tidak pernah telat berangkat ke sekolah. Kamar mandi menjadi tujuan pertama Yani setelah bangkit bukan dari kubur tapi dari kasur.
Hari ini Yani berencana menyambut Domi dengan masakannya sendiri. Yani sudah lama belajar memasak langsung bersama mentor handal, Neneknya. Ia ingin segera membuktikan kemampuannya dalam memasak kepada Domi. Bahan-bahan sudah disiapkan oleh ibunya. Jadi, nanti setelah pulang sekolah Yani bisa langsung segera memasak. "Ibu, hari ini tidak perlu repot-repot membantu Yani memasak. Yani ingin nunjukin kepada Domi kemampuan Yani." Pesan Yani kepada Ibu, dan ia pun segera berangkat ke sekolah. Ibu hanya tertawa kecil melihat tingkah anaknya yang lucu.
"Aku pulang." Segera Yani meletakkan tas dan sepatu ke tempat ia biasa manaruhnya. Ia pun langsung lari menuju dapur dan mulai menakar beras kemudian mencucinya. Setelah berasnya siap, langsung di colokkan stop contact rice cooker milikknya kedalam jack. Sambil menunggu nasinya matang, Yani mulai menumis sayur kangkung dan membuat sambal tomat. Tidak lupa, ia juga mulai memasukkan kedalam wajan ikan gurami yang sudah dibersikan sisik dan isi perutnya.
"Ting tung..." Suara bel dari arah pintu masuk. Ternyata Domi sudah datang. Bersamaan dengan bunyi bel tadi, ikan guraminya sudah matang. Yani segera mengangkat dan meniriskan ikan gurami dari dalam wajan. Ia pun langsung pergi menuju pintu masuk dan mempersilahkan Domi duduk. Tanpa basa-basi Yani lari lagi menuju dapur. Domi pun bingung dengan tingkah Yani yang buru-buru.
Yani langsung menghidangkan masakannya kepada Domi. Ada ikan gurami goreng, sambal tomat, dan tumis kangkung. Kebetulan Domi dari tadi pagi belum makan. Jadi, dia begitu senang telah disambut dengan hidangan yang mewah di mata Domi.
"Maaf Yani! Kamu uda biasa makan gak pake nasi?" Tanya Domi penasaran.
"Oh iya." Seru Yani. Ia pun buru-buru lari menuju dapur untuk mengambil nasi.
Sayang sekali, setelah dicek ternyata rice cookernya hanya dicolokkan ke dalam jack tanpa memencet tombol cook. Jadi, nasinya belum matang. Terpaksa Yani minta ibu uang untuk beli nasi di warung sebelah. Wanita lembut itu seolah-olah sudah bisa memprediksi hal ini akan terjadi. Ibu telah mempersiapkan nasi buat Yani dan temannya. Akhirnya Yani dan Domi dapat menikmati hidangan yang ada.
Comments
Post a Comment