MISTERI MATINYA ALARM HP

Tanpa Permisi, sinar mentari tiba-tiba menyelinap masuk ke kamar pribadiku. Kantuk berat semalam yang membuat diriku lupa menutup korden jendela.

“Hey…hey…!!! Siapa saja, tolong dong matiin mataharinya! Aku masih ngantuk ni.” Igau diriku yang masih tidak mau lepas dari pelukan kasur.



Sontak mataku terbuka dan mencari keberadaan jam dinding di kamar-ku. Ku dapati waktu telah menunjukkan pukul 06.15. Ternyata hari ini Aku kesiangan. Tapi tak apalah, karena hari ini adalah hari minggu. Hari yang paling aku dan teman-teman tunggu waktu SD dulu, hanya untuk menonton kartun pagi di rumah. Memang benar aku tadi malam lupa menutup korden jendela, tapi aku tidak lupa memasang alarm di HP yang sengaja volumenya aku buat paling keras. Tapi anehnya, aku samasekali tidak mendengar alarm-ku berbunyi. Aku coba mencari tahu apa yang telah terjadi. Bergaya seperti detektif handal, Aku menyelidiki apapun yang ada di kamar. Aku mengamati benda-benda yang mencurigakan.

Benda yang kelihatan mencurigakan adalah jam dinding di kamar-ku. Menurut aku, jam adalah benda yang diciptakan oleh manusia untuk mengukur waktu. Sedangkan HP adalah alat komunikasi praktis yang mudah dibawa kemana saja. Karena HP juga memiliki feature yang bisa digunakan untuk mengukur waktu, mungkin jam dinding di kamar-ku merasa dirinya kurang bermanfaat dan posisinya pun telah tergantikan sejak adanya benda kecil berupa HP, sehingga dia berusaha menggagalkan alarm untuk berbunyi dan membangunkan ku. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi. Baik jam dinding maupun HP adalah benda mati yang tidak akan pernah merasa diduakan. Jadi, untuk sementara dugaan-ku salah.

Aku pun berpikir lebih keras lagi sambil mengamati benda-benda mencurigakan di kamar. Kelihatannya tak satu pun yang mencurigakan. Aku tidak mau menyerah begitu saja. Tapi aku sama sekali tidak menemukan jawaban. Semakin aku pikir, semakin tidak menemukan petunjuk. Aku mulai putus asa.

Mungkin melapangkan dada adalah solusi tepat bagi-ku saat ini. Aku tidak ingin menghentikan langkah-ku hanya dengan terus memikirkan hal konyol seperti ini. Ku coba melupakan dan mengikhlaskannya. Suasana menjadi hening. Terdengar suara gesekan jarum jam yang terus berputar tanpa menunggu siapapun. Tak ingin menghabiskan waktu lebih lama, segera Aku ambil langkah menuju kamar mandi dan membersihkan badan.

Cermin besar berbingkai yang terpasang kokoh di dinding kamar seolah-olah menjadi juri penilai penampilan-ku pagi ini. Aku tanpak begitu rapi dengan kemeja yang aku kenakan. Cermin yang bersih selalu jujur. Menilai siapapun di depannya tanpa ada yang ditutupi. Hanya saja, cermin tidak bisa menilai isi hati manusia. Oleh sebab itu, bagi yang sedang ditikung oleh teman sendiri, percuma kalau terus bercermin. Cermin tidak akan mengerti betapa sakitnya ditikung. Kemampuan itu tidak dimiliki oleh benda mati seperti cermin.

Di garasi terdapat sebuah motor baru yang tampak begitu kotor akibat melawan derasnya hujan semalam. Terpaksa aku relakan sepeda motor-ku dikeroyok oleh kerumunan air yang jatuh dari langit sedangkan aku berada di halte bus sembari menunggu hujan reda karena aku tidak membawa jas hujan. Benar, siapapun tidak akan tega menyaksikan sepeda motor yang baru dibeli bertarung sendirian melawan hujan. Dan tidak enaknya, kejadian itu menimpa ku tadi malam. Ngenesnya, karena malam itu banyak orang yang senasib tidak membawa jas hujan dan mereka parkir lebih dulu, jadi aku harus parkir agak jauh dan berlari menuju halte bus. Hujan begitu deras sehingga jaket yang aku kenakan basah. Sesampai di halte bus aku hampir tidak mendapatkan tempat berteduh. Jadi ada tiga benda milik-ku yang tadi malam basah kuyup. Pertama jaket, kedua motor baru-ku, dan yang ketiga hati-ku.

Walau sudah berpakaian rapi aku tetap harus membersihkan sepeda motor yang terkena hujan tadi malam. ku lepas dan ku gantung kemeja-ku di dinding garasi tempat aku menaruh motor. Meskipun aku tahu kalau digantung itu sakit, tapi tetap harus aku lakukan demi terjaganya kebersihan kemeja.

Rasa puas dan senang tergambar jelas oleh expresi wajah-ku saat melihat sepeda motor baru-ku kembali bersih. Tak akan ku biarkan tetap kotor, karena untuk membelinya saja aku harus menabung sejak kelas 5 SD sampai lulus SMA.

Pagi ini aku ada rencana membeli buku di sebuah toko yang lumayan jauh dari temat tinggal-ku. Sebelum berangkat, aku selalu memeriksa bensin di dalam tangki sepeda motor-ku. Aku tidak perlu khawatir lagi. Dengan bensin yang tersisa, aku masih tetap bisa berangkat sampai ke tempat tujuan. Tapi sayangnya untuk pulang ke rumah, aku harus jalan kaki.

Sejenak setelah melihat isi hati, eh maksud aku isi tangki sepeda motor. Petunjuk menyelinap masuk ke pikiran-ku. Petunjuk yang akan memecahkan kasus matinya alarm HP-ku. Sepeda motor yang kehabisan bahan bakar tidak akan bisa berjalan.

“Sebentar! Dimana HP-ku?” Cariku sambil merogo saku celana.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku berlari menuju kamar dan membuktikan kebenaran analisa-ku. Tidak salah lagi, ternyata petunjuk yang aku analisa tadi memang benar. Tanpa sempat ku sadari, HP yang aku gunakan sebagai alarm telah kehabisan baterai. Dari situ aku sadar, ternyata aku harus peka.

Comments

Trending Topics

TIDAK ADA TEKAD KUAT, NASIHAT DAN MOTIVASI TIDAKLAH BERGUNA

TENANG DI AWAL, TAPI...

CERITA ANAK LABIL